“...jaman akan terus
berubah. Mereka yang tertinggal dalam ilmu pengetahuan, tertinggal informasi,
jaringan dan dsb pasti akan tertinggal. Kedua bersedia bekerja keras untuk
membangun keberhasilan itu. Bagi saya itu sangat mendasar sekali. Karena itu
mantra "manjadda wajada" bagi saya wajib dilakukan untuk meraih
kesuksesan. Kalau kita sungguh-sungguh, semua kesulitan akan terjawab. -Tanu
Sutomo-“.
Era kebangkitan entrepreneur muda kian menggeliat di Tanah
Air. Mereka tumbuh dari berbagai ranah usaha dari tingkat kecil, menengah
hingga kelas atas dengan penghasilan hingga milyaran rupiah. Lembaga pendidikan
pun, mulai tingkat SMK hingga Perguruan Tingggi berlomba mencetak para usahawan
muda.
Fenomena tersebut disambut baik oleh berbagai pihak,
termasuk Tanu Sutomo yang kita kenal sebagai entrepreneur sekaligus motivator
ini. Dikatakannya, tumbuhnya animo masyarakat, khususnya kalangan muda untuk
menjadi entrepreneur harus kita dukung agar mereka tumbuh menjadi entrepreneur.
Sayangnya, imbuh direktur IFA ini, banyak di antara mereka yang kurang gigih
dalam menopang cita-citanya menjadi wirausahawan handal.
Di tengah kesibukannya sebagai entrepreneur, motivator dan
pimpinan IFA, ia menyempatkan diri untuk berbincang tentang peluang dan tantangan
entrepreneur muda Indonesia. Berikut petikannya:
Bagaimana Anda melihat fenomena tumbuhnya entrepreneur muda saat ini?
Terus terang saya menyambut positif hal itu khususnya dalam
konteks di mana Indonesia masih sangat kecil jumlah entrepreneurnya dibanding
negara-negara lain. Bahkan dengan Negara tetangga seperti Singapura dan
Malaysia kita jauh ter tinggal. Namun demikian saya melihat kemunculan
penggiat penggiat yang hendak memajukan dunia usaha ini tidak hanya
menjadikannya sebagai euphoria semata. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan
dan dipikirkan.
Apa saja itu?
Di antaranya adalah kesiapan secara baik untuk menjadi
entrepreneur, fasilitas apa yang bisa dilakukan secara serempak, mau mengikuti
pelatihanpelatihan yang mendukung hal itu dan tidak mudah berputus asa. Dan
yang lebih penting adalah kerjasama dari berbagai pihak, baik swasta maupun
pemerin- tah untuk men-support para calon pengusaha itu. Saya meli- hat di situ
masih ada ketimpangan. Di satu sisi para pengusaha bergiat matianmatian untuk
menjadi pengusaha handal. Tapi apakah kebijakan pemerintah mendukung hal itu,
apakah juga iklim usaha yang ada prospektif bagi usahawan? Jadi harus ada
keterlibatan banyak pihak yang terkait.
Sejauh ini apakah pemerintah sudah memberi- kan support penuh?
Tentu pemerintah sudah berupaya untuk itu, tapi masih jauh
dari harapan kita. Jika dibandingkan dengan Negara-negara lain.
Peran pemerintah masih jauh sekali. Apa yang dilakukan oleh
International Trade Centre saya kira cukup baik, hanya dari tahun ke tahun
kadarnya masih kurang optimal. Saya katakan demikian sebab di Negara-negara
lain supportnya luar biasa. Saya pernah melihat event Life- style Expo yang
dihelat Hong Kong Trade Development Centre yang menyeleng- garakan pameran
dagag di Jakarta be- berapa waktu lalu. Mereka mengundang sejumlah pengusaha
yang biasa melakukan perjalanan untuk melihat pameran dagang di beberapa Negara
untuk datang di event itu. Menariknya, semua undangan diberikan biaya transport
dan penginapan. Saya sendiri mendapat dua undangan atas nama IFA dan Happy Holy
Kids. Jadi mereka sangat serius agar pameran mereka dihadiri banyak pengusaha.
Selain itu harus terintegrasi antara kalangan pendidikan, calon wirausahawan,
swasta dan pemerintah. Jadi tidak jalan sendiri-sendir.
Bagi calon entrepreneur apa saja yang harus disiapkan?
Ada beberapa hal yang sangat mendasar yang menurut saya
mulai dilupakan banyak orang. Pertama, sekarang jaman berkembang luar biasa.
Informasi terbuka seluas-luasnya. Jadi kemajuan atau temuan dari Negara lain
dapat kita lihat dalam waktu bersamaan. Harusnya itu mendorong kita untuk turut
memanfaatkannya agar tidak ketinggalan. Kedua, kita juga menyaksikan betapa
pertumbuhan entrepreneur sangat menggembirakan. Mereka dapat menikmati hasil
dari jerih payah dan perjuangannya selama ini dengan gemilang. Dan itu tidak
dalam waktu singkat. Nah, umumnya para calon entrepreneur sekarang maunya dapat
meraih keberhasilan dengan cara instan. Tidak bisa seperti itu.
Lantas, bagaimana saran Anda?
Pertama, jaman akan terus berubah. Mereka yang tertinggal
dalam ilmu pengetahuan, tertinggal informasi, jaringan, dsb pasti akan
tertinggal. Kedua, bersedia bekerja keras untuk membangun keberhaslan itu. Bagi
saya itu sangat mendasar sekali. Karena itu mantra "man jadda wajada"
bagi saya wajib dilakukan untuk meraih kesuksesan. Kalau kita sungguh-sungguh,
semua kesulitan ak
an terjawab. Lihat saja yang dilakukan Ustad Salman dan
Shahibul Menara dalam film Negeri 5 Menara itu, karena mereka bersungguh-sungguh,
akhirnya meraih impian-impiannya.
----------------------------------------------------------------------------------------------------------
Kita gelar
IFA Coaching Program yang berlangsung selama 108 hari untuk satu angka- tannya.
Salah satu trainingnya adalah bagaimana melihat diri sendiri. Kita tahu setiap
orang memiliki sifat baik maupun buruk. Yang baik kita kembangkan, sementara
yang buruk kita eliminir. Dengan begitu mereka menyadari kekuatan
masing-masing. Setelah itu kita ajak memper-tajam apa tujuan-tujuan mereka
dalam hidup ini.
----------------------------------------------------------------------------------------------------------
Banyak calon
entrepreneur yang patah arang ketika merintis usaha dan tidak kunjung berhasil.
Apa yang dapat dilakukan oleh yang bersangkutan dan orang seperti Anda sebagai
motivator?
Seperti yang saya katakan, jangan berharap sukses dengan
cara instan. Semua membutuhkan kerja keras dan jangan berhenti belajar kepada
orang yang kita anggap berhasil lebih dulu. Kesadaran inilah yang harus
dimiliki. Jan- gan terjebak pada budaya instan. Harus ada kesungguhan,
ketulusan, kegigihan, keuletan. Inilah yang harus dibayar oleh calon
entrepreneur. Dalam pelatihan yang saya berikan melalui IFA Coaching Program,
keberhasilan sebetulnya da- pat diraih dengan cara yang tidak rumit, canggih
ataupun ribet.
Ia dapat kita raih degan cara sederhana, dilakukan secara
sistematis, dan penuh kesungguhan. Itu yang dapat membawa pada keberhasilan.
Banyak yang mengikuti pelataihan namun tidak berhasil menduplikasi apa yang
mereka dapatkan. Banyak pula yang berhenti di tengah jalan. Padahal
pelatihanpelatihan tersebut akan menjadi kekuatan bagi keberhasilan mereka. Ke
depan, itulah yang akan kami lakukan. Para calon entrepreneur ini kita
kumpulkan dalam satu wadah agar mereka dapat saling berbagi, saling memotivasi,
dan saling memberi contoh bagi setiap pencapaian. Begitu seterusnya.
Dalam praktiknya, menjaga komitmen peserta untuk terus
bertahan dalam sebuah pelati- han atau workshop yang ber- langsung sekian waktu
itu tidak mudah. Ada kiat khusus?
Apa yang selama ini dilakukan IFA sebetulnya menjawab hal
itu. Kita gelar IFA Coaching Program yang berlangsung selama 108 hari untuk
satu angkatan- nya. Terdiri dari 12 modul pelatihan yang dilaksanakan secara
berkala. Salah satu trainingnya adalah bagaimana melihat diri sendiri. Kita
tahu setiap orang memiliki sifat baik maupun buruk. Yang baik kita kembangkan,
sementara yang buruk kita eliminir. Dengan begitu mereka menyadari kekuatan
masing-masing. Setelah itu kita ajak mempertajam apa tujuan-tujuan mereka dalam
hidup ini. Kita perkenalkan juga 10 karakter kepemimpinan yang luar biasa
dahsyat. Yang sudah-sudah, mereka yang mengikuti pelatihan tiga hari pertama
merasa terbuka pikirannya, mengerti kekuatannya, mengetahui kekurangannya, dsb.
sehingga terus berlanjut ke tahap-tahap berikutnya. Termasuk sharing dari
pengalaman lapangan ketika praktik menjalankan bisnis masing-masing. Hebatnya
lagi, begitu berhasil mengikuti seluruh tahapan, mereka bisa berperan sebagai
coach bagi peserta berikutnya. Nah, inilah yang kita lakukan sehingga ini
merupakan investasi bagaimana menciptakan calon-calon entrepreneur handal di
masa mendatang.
Kalau dirinci, apa saja kenda- lanya ketika menghelat IFA Coaching
Program tersebut?
Salah satunya, sebagian melihat orang yang sudah berhasil
dari yang su- dah dicapai saja, bukan proses bagaimana ia meraih keberhasilan
itu. Sehingga mereka maunya dapat meraih keberhasilan dalam waktu singkat.
Tidak sabar melalui berbagai tahapan yang sebetulnya turut menggembleng
karakter dia. Menurut saya budaya instan itulah yang bahaya. Ada orang melihat
orang lain memiliki mobil, dia ingin cepat dapat. Akhirnya memaksakan diri
dengan berbagai cara. Ingin ke sekolah atau kampus saja harus diantar. Merasa
risih jika naik kendaraan umum. Bagi yang tengah bermimpi jadi pengusaha, harus
buang jauh-jauh gaya seperti itu. Kita harus siap untuk hidup dengan apa yang
kita miliki saat ini. Mensyukurinya sebagai anugerah dan rahmat. Kita kerap
kali manja dengan berbagai fasilitas yang sebetulnya bisa kita jalankan
sendiri.
Apakah karakter seperti itu khas Indonesia, bagaimana dengan anak-anak
di Negara- negara lain?
Setiap Negara tentu punya budaya atau tradisi yang
berbeda-beda. Soal jam kerja misalnya, jika di kita hanya 8 jam, di beberapa
Negara ada yang sampai 12 jam, bahkan 14 jam. Tetapi itu dinikmatinya dengan
baik, sebab dilakukan secara bersama-sama. Cina misalnya, sedikitnya 12 jam
kerja dalam sehari. Jadi kalau ada orang yang bekerja kurang dari itu merasa
aneh. Itulah budaya. Jika dibanding dengan kita, tentu ada ketimpangan. Dalam
soal kemandirian anak- anak kita juga kalah. Suka nggembosin, ngambek, mutung,
itu kan yang masih kerap terjadi di kita.
Dalam soal bisnis berbasis multylevel marketing, bagaimana Anda
melihatnya ke depan. Apakah masih cukup menjan- jikan?
Untuk Indonesia saya melihat masih sangat prospektif. Kita
lihat saja pertumbuhan MLM sangat subur di sini. Sebagian besar dari
mancanegara. Itu menunjukkan kita merupakan pasar potensial bagi bisnis MLM.
Karakter bisnis MLM memungkinkan untuk menjangkau ke semua wilayah Indonesia
yang oleh usaha- usaha berskala besar belum tentu bisa. Jumlah penduduk kita
juga turut menjadi obyek utama bagi bisnis berjejaring. Melihat itu semua,
ditambah budaya orang Indonesia yang suka ngobrol, senang berkumpul,
bersilaturahmi, memungkinkan bisnis MLM mudah dijalankan dan dikembangkan.
Ditambah lagi suburnya lembagalembaga training dan motivasi, membuat Indonesia
masih akan diserbu bisnis berbasis MLM. Jadi, dalam puluhan tahun ke depan MLM
akan terus tumbuh. Apalagi angka pengangguran juga masih melambung, sehingga
membuka peluang bagi bisnis jaringan yang tak memerlukan modal besar dan keahlian
atau pendidikan khusus.
Sebagian besar MLM saat ini berasal dari mancanegara. Bagaimana nasib
MLM lokal bersaing dengan gempuran MLM asing?
Saya kira dalam bisnis apapun, mereka yang gagal membuat
terobosan baru, tidak berinovasi, tidak memperbaiki la yanan, tidak menambah
jumlah produk yang dibutuhkan, secara alami akan tersisih. Dalam hal itu IFA
akan terus berinovasi, menambah jumlah produk, meningkatkan layanan,
menyempurnakan sstem yag ada, dsb.
Visi kita memang menjadikan IFA sebagai MLM terlengkap di
tanah air. Lihat saja ini, (ia menunjukkan sejumlah produk baru), puluhan macam
poroduk healthfood suplemen ini akan meleng- kapi produk IFA sekarang. Ini baru
saya bawa dari negeri Barack Obama. Ba- yangkan, tak lama lagi semuanya bisa
kita dapatkan melalui IFA. Produk-produk ini dikeluarkan oleh perusahaan besar
yang sudah berpengalaman puluhan tahun di Amerika. Jadi, ini kerjasama yang tak
tanggung-tanggung.
Sejauh mana bisnis MLM ini mampu berperan dalam hal
menumbuhkan entrepreneur- entrepreneur muda baru di Indonesia?
Bagi saya MLM itu terobosan. Pengusaha itu kan orang yang
mampu menghidupi dirinya sendiri dan juga orang lain. Nah, di bisnis MLM
siapapun bisa jadi pengusaha, termasuk mereka yang pendidikannya terbatas atau
pun hanya bermodal cekak. Sebab untuk dapat menjalankan bisnis MLM tidak
mengharuskan bermodal besar. Hanya dengan 50ribu – 100ribu pun sudah bisa
jalan. Dalam MLM, pendidikan bagaimana berwirausaha akan diberikan, produk disediakan,
dan system juga sudah siap, baik yang soft system maupun hard system. Jadi,
inilah terobosan dimana peluang untuk menumbuhkan entrepreneur muda terbuka
lebar.
Sayangnya, mereka yang kini bergabung dalam sebuah MLM
banyak pula yang tidak focus, kurang memiliki komitmen dan kurang gigih dalam
memper- juangkan impian-impiannya. Terapi seperti apa yang dapat Anda berikan?
Semuanya kembali ke hal-hal yang basic tadi. Ini juga satu
hal yang harus disadari semua pihak. Jaman terus beru- bah, persaingan begitu
hebat, teknologi berkembang pesat. Kalau kita tidak mampu mengikuti denyut
perkemba ngan tersebut, maka kita akan ketingga- lan. Jangan pernah berhenti
melakukan inovasi. Jangan pernah berkata, "Saya kan sudah berhasil,"
lalu tidak melakukan upaya-upaya pengembangan lebih maju lagi.
Kemajuan kan bukan hanya pada aspek materi saja, sisi yang
lain pun harus kita kejar pula. Karena itu lihat saja saya, kapan saya
berhenti? Tidak pernah. Saya akan berusaha terus untuk selalu ber- tumbuh.
Dengan begitu mereka yang bekerjasama dengan kita pun akan turut bertumbuh
pula. - See more at: http://www.ifadahsyat.biz/2012/06/tanu-sutomo-entrepreneur-muda-perlu.html#sthash.m99Nd01i.dpuf

